Membangun Kepercayaan Diri di Depan Layar, Ini Tips Public Speaking di Era Digital

Membangun Kepercayaan Diri di Depan Layar, Ini Tips Public Speaking di Era Digital

Perubahan teknologi digital tidak hanya menggeser medium komunikasi, tetapi juga cara otoritas, kepercayaan, dan kehadiran diri dibangun. Layar kini menjadi panggung utama komunikasi publik, sementara suara, ekspresi, dan framing visual menentukan bagaimana seorang pembicara dipersepsikan.

Hal tersebut mengemuka dalam UICI Webinar Series Volume 3 bertajuk “Speaking With Presence: Ketika Layar Menjadi Panggung, Seni Public Speaking di Era Digital” yang digelar Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Rabu (14/01/2026).

Webinar yang diselenggarakan Program Studi Komunikasi Digital UICI ini menghadirkan Izzaty Zephaniah, S.Sos., M.Si., dosen Komunikasi Digital sekaligus Kepala Divisi Komunikasi Publik dan Produksi Konten UICI, sebagai narasumber. Kegiatan berlangsung secara daring dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube UICI Official.

Dalam paparannya, Izzaty menjelaskan bahwa komunikasi di ruang digital menuntut kesadaran yang lebih tinggi dibandingkan komunikasi tatap muka. Pembicara tidak lagi sepenuhnya dibantu oleh bahasa tubuh dan ruang fisik, melainkan oleh cara pesan hadir dan dibaca melalui layar.

“Di ruang digital, kita tidak hanya berbicara, tetapi juga ‘dibaca’. Cara kita muncul di layar ikut menentukan apakah pesan dipercaya atau tidak,” ujar Izzaty.

Ia memaparkan bahwa kehadiran diri (presence) dalam komunikasi digital dibangun melalui kombinasi teknis dan nonteknis.

Pengaturan kamera, sudut pandang, dan jarak visual menjadi bagian penting karena kamera berfungsi menggantikan kontak mata. Sudut kamera yang sejajar mata dan framing yang proporsional, menurutnya, membantu membangun kesan percaya diri dan profesional.

Kesiapan teknologi juga menjadi faktor yang kerap luput diperhatikan. Pencahayaan yang kurang, suara bergema, atau gangguan koneksi tidak jarang ditafsirkan audiens sebagai kegugupan atau kurangnya persiapan.

“Sering kali yang dinilai bukan materinya, tapi bagaimana materi itu terdengar dan terlihat,” kata Izzaty.

Dari sisi penyampaian, ia menekankan pentingnya pengelolaan tempo dan nada suara. Kecepatan berbicara, jeda, serta perubahan intonasi berfungsi sebagai penanda makna bagi audiens digital.

Bagian yang disampaikan lebih lambat dan diberi jeda cenderung dipersepsikan sebagai pesan penting, sementara nada yang terlalu datar berisiko membuat audiens kehilangan fokus.

“Tempo dan tone itu bukan soal gaya, tapi soal makna. Audiens menangkap keseriusan pesan dari cara kita mengaturnya,” ujarnya.

Izzaty juga mengingatkan bahwa keheningan di ruang digital memiliki bobot berbeda dibandingkan komunikasi luring. Tanpa konteks visual yang kuat, diam sering disalahartikan sebagai gangguan teknis. Karena itu, keheningan perlu dikelola secara sadar agar tetap terbaca sebagai bagian dari komunikasi, bukan kelemahan.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa teknologi digital membentuk ulang persepsi otoritas. Platform daring menciptakan efek perataan, di mana karisma tidak lagi otomatis terasa dan kelemahan penyampaian justru lebih mudah terlihat.

Dalam konteks ini, kehadiran diri perlu dibangun secara sadar melalui kesiapan teknis, kejelasan suara, dan ekspresi yang konsisten.

“Teknologi membuat semua orang berada di layar yang sama. Otoritas tidak lagi diasumsikan, tetapi harus dibangun,” ujar Izzaty.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *