Di Hadapan Para Kepala Sekolah, Dedi Iskandar Batubara: ‎ ‎”Pilar Kebangsaan Adalah Kurikulum Kehidupan”‎

Di Hadapan Para Kepala Sekolah, Dedi Iskandar Batubara: ‎ ‎”Pilar Kebangsaan Adalah Kurikulum Kehidupan”‎

MEDAN – Anggota DPD RI asal Sumatera Utara, Dedi Iskandar Batubara, menegaskan bahwa sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan benteng terakhir pertahanan ideologi bangsa. Hal tersebut disampaikannya dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar di Hotel Madani, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Senin (15/12/2025).

Kegiatan ini dilaksanakan berbarengan dengan program School Leader yang diinisiasi oleh Majelis Pendidikan Al Jam’iyatul Washliyah. Sebanyak 70-an peserta yang terdiri dari para pimpinan satuan pendidikan Al Washliyah se-Sumatera Utara hadir untuk menyerap visi kepemimpinan berbasis konstitusi.

Sekolah sebagai Miniatur Negara

Dalam arahannya, Dedi Iskandar menekankan bahwa para pemimpin sekolah (school leaders) memiliki peran strategis dalam menerjemahkan nilai-nilai Empat Pilar ke dalam ekosistem pendidikan.

“Bapak dan Ibu adalah nakhoda di sekolah masing-masing. Jika sekolah kita tidak lagi mengajarkan kasih sayang dalam perbedaan, maka kita sedang menghancurkan pilar Bhinneka Tunggal Ika dari akarnya. Jadikan sekolah sebagai miniatur negara yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi hukum,” ujar Dedi di hadapan para peserta.

Beliau juga menyoroti Pasal 31 UUD 1945 yang mengamanatkan sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia.

“Jangan sampai kita hanya mengejar nilai akademik tapi melupakan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Konstitusi kita jelas meminta pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa secara utuh. Kader Washliyah harus menjadi motor penggerak pendidikan yang moderat namun tetap teguh pada prinsip ketauhidan,” tegasnya.

Menghadapi Krisis Kepemimpinan Digital

Di era disrupsi, Dedi mengingatkan bahwa tantangan school leader saat ini adalah menjaga moralitas generasi muda dari gempuran nilai asing yang bertentangan dengan Pancasila.

“Dunia digital tidak punya batas, tapi kita sebagai bangsa punya batas, yakni ideologi. Saya menuntut para kepala sekolah untuk tidak gaptek konstitusi. Bagaimana kita mau menjaga murid-murid kita, jika pemimpinnya sendiri ragu dalam memahami posisi Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum?” tanya Dedi retoris.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya transparansi dan keadilan dalam pengelolaan institusi pendidikan sebagai cerminan dari tata kelola negara yang baik.

“Kepemimpinan yang bersih di sekolah adalah praktik langsung dari sila keempat dan kelima. Jika guru dan staf diperlakukan secara adil, maka nilai-nilai kebangsaan itu otomatis terserap ke siswa tanpa perlu banyak bicara. Contoh nyata jauh lebih efektif daripada sekadar hafalan butir-butir Pancasila,” tambahnya.

Harapan untuk Majelis Pendidikan

Menutup sesi sosialisasinya, Senator yang juga aktif dalam berbagai organisasi sosial ini berharap Majelis Pendidikan Al Washliyah dapat melahirkan cetak biru kepemimpinan yang progresif namun tetap berakar pada sejarah perjuangan bangsa.

“Saya ingin setelah pertemuan di Hotel Madani ini, ada semangat baru. Jadikan Empat Pilar sebagai kurikulum kehidupan di sekolah-sekolah kita. Kita tidak hanya mencetak lulusan yang siap kerja, tapi kita sedang mencetak pemimpin-pemimpin masa depan yang mencintai NKRI dengan sepenuh jiwa,” pungkas Dedi Iskandar Batubara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *