Acara Buka Puasa Bersama yang diselenggarakan oleh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) pada Senin, (09/03 2026) di Rumah Dinas Wakil Menteri Agama Republik Indonesia menjadi momentum refleksi penting mengenai masa depan pendidikan nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor Universitas Insan Cita Indonesia, Asep Saefuddin, menyampaikan tausiah yang menyoroti urgensi pembenahan sistem pendidikan Indonesia melalui pendekatan pendidikan holistik dan berbasis spiritual.
Acara yang berlangsung di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan alumni HMI dari berbagai daerah. Buka puasa bersama ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi Ramadan, tetapi juga ruang diskusi mengenai berbagai isu strategis bangsa, termasuk persoalan pendidikan yang menjadi perhatian utama dalam tausiah Prof. Asep Saefuddin.
Dalam ceramahnya, Asep Saefuddin menyoroti kondisi pendidikan Indonesia yang menurutnya masih menghadapi tantangan serius jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Ia mengungkapkan bahwa berbagai indikator internasional menunjukkan capaian pendidikan Indonesia dalam bidang bahasa, sains, dan matematika masih berada pada posisi yang memprihatinkan.
Menurutnya, dalam perbandingan di kawasan ASEAN, kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga Filipina. Kondisi ini menjadi keprihatinan bersama yang harus segera mendapat perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.
Asep Saefuddin menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama lemahnya kualitas pendidikan nasional adalah pendekatan pembelajaran yang terlalu parsial dan belum memandang manusia sebagai subjek pendidikan secara utuh. Ia bahkan menyebutkan bahwa sekitar 60 persen lulusan sekolah dasar dan menengah menghadapi kesulitan dalam pengembangan kompetensi karena sistem pendidikan yang tidak terintegrasi.
“Pendidikan kita masih terlalu parsial. Akibatnya banyak lulusan yang tidak memiliki fondasi pengetahuan dan karakter yang kuat. Padahal pendidikan seharusnya membangun manusia secara utuh,” ujar Asep Saefuddin dalam tausiahnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memperkenalkan gagasan yang ia tuangkan dalam bukunya berjudul Spiritual Holistic Education. Buku tersebut menekankan pentingnya membangun sistem pendidikan yang mengintegrasikan aspek intelektual, emosional, sosial, dan spiritual dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, spiritualitas harus menjadi fondasi penting dalam pendidikan agar peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki nilai moral dan karakter yang kuat. Ia menilai bahwa tanpa dimensi spiritual, pendidikan berpotensi kehilangan arah dalam membentuk manusia yang berintegritas.
“Spiritual harus hadir dalam pendidikan. Pendidikan yang holistik akan membentuk manusia yang utuh, bukan hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki nilai dan karakter,” jelasnya.
Selain itu, Asep Saefuddin juga menekankan bahwa pendidikan seharusnya dipandang sebagai sebuah ekosistem yang memberi ruang bagi pelajar untuk berkembang secara berkelanjutan. Dalam ekosistem tersebut, sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus bekerja bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Ia juga menyampaikan harapan agar gagasan dalam buku Spiritual Holistic Education dapat menjadi bahan diskusi bersama pemerintah, termasuk dengan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Romo R. Muhammad Syafi’i yang menjadi tuan rumah kegiatan buka puasa bersama tersebut.
Menurut Asep Saefuddin, kolaborasi antara dunia pendidikan dan pemerintah sangat penting untuk mendorong lahirnya kebijakan pendidikan yang lebih komprehensif dan berpihak pada pengembangan manusia secara menyeluruh.
Kegiatan buka puasa bersama MN KAHMI ini sendiri berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Selain mempererat silaturahmi antar alumni HMI, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi untuk membahas berbagai persoalan bangsa, termasuk masa depan pendidikan Indonesia.
Di akhir tausiahnya, Asep Saefuddin menegaskan bahwa pendidikan yang kuat adalah fondasi utama bagi kemajuan bangsa. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun sistem pendidikan Indonesia yang lebih holistik, berkarakter, dan berorientasi pada masa depan generasi bangsa.


