Di Musda Al Washliyah Asahan, Dedi Iskandar Batubara:‎ ‎”Konstitusi Adalah Jalan Dakwah Kita”‎

Di Musda Al Washliyah Asahan, Dedi Iskandar Batubara:‎ ‎”Konstitusi Adalah Jalan Dakwah Kita”‎

KISARAN – Anggota DPD RI asal Sumatera Utara, Dedi Iskandar Batubara, menegaskan bahwa menjaga kedaulatan negara melalui pemahaman konstitusi merupakan bagian tak terpisahkan dari misi dakwah. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber utama dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gedung Zul Firman, Universitas Asahan (UNA), Sabtu (13/12/2025).

Kegiatan ini dilaksanakan berbarengan dengan pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) Pengurus Daerah Al Jam’iyatul Washliyah Kabupaten Asahan. Sebanyak 115 peserta yang terdiri dari jajaran pengurus daerah dan cabang tampak antusias menyimak paparan senator tersebut.

Sinergi Agama dan Negara

Berbeda dengan narasi umum, Dedi Iskandar menekankan bahwa Empat Pilar: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah alat bagi umat untuk mewujudkan keadilan sosial yang selaras dengan ajaran agama.

“Warga Al Washliyah jangan pernah merasa asing dengan konstitusi. Justru UUD 1945 adalah payung hukum yang menjamin kita untuk menjalankan syariat dan dakwah di bumi Nusantara ini. Menjaga pilar kebangsaan sama artinya dengan menjaga rumah besar tempat kita beribadah,” tegas Dedi Iskandar di podium.

Beliau juga mengingatkan bahwa Al Washliyah lahir sebelum kemerdekaan dengan semangat memerdekakan pikiran dan bangsa.

“Sejarah mencatat bahwa kader-kader Al Washliyah harus menjadi arsitek sosial di Sumatera Utara. Maka hari ini, saya mengajak 115 pengurus yang hadir: jangan biarkan ada celah antara menjadi seorang muslim yang taat dan menjadi warga negara yang patuh. Keduanya adalah satu tarikan napas,” tambahnya.

Musda sebagai Momentum Konsolidasi Ideologi

Terkait pelaksanaan Musyawarah Daerah, Dedi berpesan agar pemimpin yang terpilih nantinya harus memiliki wawasan kebangsaan yang luas demi membawa organisasi berkontribusi lebih besar bagi Kabupaten Asahan.

“Musda ini bukan sekadar ganti nakhoda. Ini adalah momentum konsolidasi ideologi. Saya ingin Al Washliyah Asahan menjadi laboratorium moderasi. Kita harus menjadi ‘Wasathiyah’—penengah yang mendinginkan suasana saat suhu politik atau sosial memanas,” ujar Dedi dengan nada optimis.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kedaulatan ekonomi dan sumber daya alam yang termaktub dalam Pasal 33 UUD 1945 sebagai bagian dari perjuangan organisasi.

“Kita sering bicara pilar kebangsaan hanya soal upacara, padahal substansinya adalah kesejahteraan. Saya mendorong pengurus Al Washliyah Asahan untuk juga melek konstitusi dalam bidang ekonomi. Pastikan kehadiran organisasi kita dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil di pelosok Asahan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *