Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) menggelar kegiatan Buka Puasa Bersama yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan pada Senin, (09/03/2026) di Rumah Dinas Wakil Menteri Agama, Jalan Brawijaya XI No.25, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi keluarga besar KAHMI untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat semangat kebersamaan di bulan suci Ramadan.
Acara yang dimulai pukul 17.00 WIB tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, akademisi, dan alumni HMI dari berbagai daerah. Suasana kebersamaan terasa kental sejak awal acara, di mana para peserta memanfaatkan momentum ini untuk saling bertukar gagasan dan memperkuat jejaring kebangsaan di antara sesama alumni.
Presidium MN KAHMI, Abdullah Puteh, yang juga menjadi sohibul hajat dalam kegiatan ini menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran para undangan. Ia menilai kegiatan buka puasa bersama ini bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi juga ruang silaturahmi yang memperkuat ikatan antar alumni.
Dalam sambutannya, Abdullah Puteh menegaskan pentingnya menjaga hubungan baik di antara keluarga besar KAHMI. Ia menyampaikan bahwa Ramadan adalah momentum yang tepat untuk memperkuat ukhuwah dan mempererat persaudaraan.
“Terima kasih atas kehadiran para undangan. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi bagi keluarga besar KAHMI untuk terus menjaga kebersamaan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Abdullah Puteh dalam sambutannya.
Tuan rumah kegiatan ini, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Romo R. Muhammad Syafi’i, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan yang hadir. Ia menekankan bahwa kegiatan seperti ini penting untuk menjaga nilai-nilai persaudaraan dan memperkuat persatuan di tengah dinamika kehidupan berbangsa.
Romo Syafi’i menilai bahwa alumni HMI memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni sosial dan memperkuat persatuan bangsa. Menurutnya, silaturahmi seperti ini menjadi ruang penting untuk merawat semangat kebangsaan.
Ia juga menyinggung pentingnya menjaga sikap kebangsaan dalam menghadapi berbagai isu global yang berkembang saat ini. Indonesia, menurutnya, harus tetap mengedepankan prinsip keseimbangan dan tidak memihak secara sempit dalam konflik global.
“Yang terpenting adalah menjaga persaudaraan, kesatuan, dan persatuan bangsa. Dalam menghadapi isu global kita tidak memihak secara sempit kepada pihak tertentu, tetapi mendukung langkah pemerintah dan berdoa agar konflik di dunia dapat diselesaikan dengan baik,” kata Romo Syafi’i.
Selain sambutan kebangsaan, acara buka puasa bersama MN KAHMI juga diisi dengan tausiah yang disampaikan oleh Rektor Universitas Insan Cita Indonesia, Asep Saefuddin. Dalam ceramahnya, ia menyoroti kondisi pendidikan Indonesia yang menurutnya masih menghadapi banyak tantangan serius.
Asep Saefuddin menjelaskan bahwa dalam berbagai indikator internasional, kemampuan siswa Indonesia dalam bidang bahasa, sains, dan matematika masih berada pada peringkat yang memprihatinkan. Bahkan di kawasan ASEAN, posisi Indonesia masih berada di bawah beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari sistem pendidikan yang selama ini cenderung parsial dan kurang menempatkan manusia sebagai subjek pendidikan yang utuh. Ia menyebutkan bahwa sekitar 60 persen lulusan sekolah dasar dan menengah menghadapi kesulitan dalam pengembangan kemampuan karena sistem pendidikan yang belum sepenuhnya integratif.
Dalam kesempatan itu, Asep Saefuddin juga memperkenalkan gagasan yang ia tuangkan dalam bukunya berjudul Spiritual Holistic Education. Buku tersebut menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga dimensi spiritual dan pembentukan karakter.
“Pendidikan harus dibangun secara holistik. Indonesia harus memandang manusia sebagai subjek pendidikan yang utuh, bukan hanya dari aspek akademik tetapi juga spiritual. Pendidikan harus menjadi ekosistem yang memberikan ruang bagi pelajar untuk berkembang secara menyeluruh,” jelas Asep Saefuddin.
Ia juga berharap adanya sinergi antara dunia pendidikan dan pemerintah untuk membangun sistem pendidikan yang lebih baik di masa depan. Menurutnya, kolaborasi antara institusi pendidikan dan pemangku kebijakan sangat penting untuk menghadirkan perubahan nyata dalam kualitas pendidikan nasional.
Melalui kegiatan buka puasa bersama ini, para alumni KAHMI tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga membangun ruang dialog mengenai berbagai isu strategis bangsa. Momentum Ramadan diharapkan dapat menjadi penguat persaudaraan sekaligus melahirkan gagasan dan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.


