ANLDB Digelar Serentak di Sulteng: Kemenag Pastikan Proses Berjalan Objektif dan Terpantau

ANLDB Digelar Serentak di Sulteng: Kemenag Pastikan Proses Berjalan Objektif dan Terpantau

PALU — Asesmen Nasional Literasi Dasar Beragama (ANLDB) untuk siswa sekolah dasar di Sulawesi Tengah digelar serentak pada 17–21 November 2025. Program yang diinisiasi Subdit SD Direktorat PAI, Ditjen Pendis Kementerian Agama ini dirancang untuk memetakan kemampuan keberagamaan siswa secara terukur dan berbasis data.

ANLDB tidak mempengaruhi nilai akademik sekolah maupun siswa. Hasil asesmen menjadi rujukan pemerintah dalam merumuskan arah kebijakan pendidikan agama yang lebih tepat sasaran. Pemerintah berharap asesmen ini memberi gambaran utuh mengenai kemampuan kognitif, psikomotorik, dan afektif peserta didik di seluruh Indonesia.

Mengukur Pengetahuan, Praktik Ibadah, dan Sikap Sosial

Tiga aspek menjadi fokus penilaian ANLDB. Aspek kognitif menilai kemampuan membaca Al-Quran dan pemahaman dasar ajaran agama. Aspek psikomotor mengamati praktik ibadah dan aktivitas sosial keagamaan. Sementara aspek afektif mencakup sikap sosial serta kepedulian terhadap lingkungan, budaya, dan negara.

Pelaksanaan asesmen dilakukan melalui dua instrumen. Pertama, pengisian soal dan kuesioner di aplikasi SIAGA Siswa yang memuat 40 butir dengan sekema; 12 soal pengetahuan, 14 butir psikomotor, dan 14 butir afektif. Waktu pengerjaan maksimal 45 menit. Kedua, tes kemampuan membaca Al-Quran melalui rekaman video di aplikasi yang sama. Siswa diberi tiga kali kesempatan, sementara penilaian dilakukan oleh enumerator melalui aplikasi SIAGA Enumerator.

Empat Daerah Jadi Sampel

Secara nasional, ANLDB dilaksanakan di 34 provinsi, masing-masing melibatkan 2 kota dan 2 kabupaten. Di Sulawesi Tengah, wilayah sampel mencakup Kota Palu, Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut. Setiap daerah menyertakan lima sekolah dengan sekitar 20 siswa sebagai responden.

Dari empat wilayah sampel tersebut, ditetapkan 20 sekolah dan 20 enumerator yang bertugas di masing-masing lokasi pengambilan data. Sekolah-sekolah yang terlibat meliputi SDN 1 Jaya Bakti, SDN Hanga-Hanga, SDN Salu, SDN Unjulan, SDIT Ar-Rayyan Luwuk, SD Inpres Kampung Baru, SD Inpres Kautu, SDN Ambelang, SDN Bulungkobit, SDN Pembina Salakan, SDN Kendek, SDN Lokotoy, SDN Tinakin, SDN 2 Inpres Matanga, SD Inpres Kalupapi, SDN 22 Palu, SDN Biro, SDN Buluri, SDI Raudhatul Jannah, dan SD Inpres Buluri.

Setiap daerah melibatkan lima sekolah, dan masing-masing sekolah 20 siswa sebagai responden. Semua sekolah dipilih secara acak sehingga hasil pemetaan mencerminkan kondisi lapangan secara objektif, representatif, dan bebas dari intervensi pihak mana pun.

Monitoring Berjalan Intensif

Selama pelaksanaan ANLDB, proses monitoring dilakukan langsung oleh Kabid PAIS Kanwil Kemenag Sulawesi Tengah, H. Rusdin, MM. Ia meninjau sejumlah sekolah sampel di Kota Palu, seperti SDN 22 Palu, SDN Buluri, SDN Biro, SD Inpres Buluri, dan SDI Raudlatul Jannah. “Kami sangat mendukung kegiatan ini. Semoga hasilnya memberi gambaran akurat untuk peningkatan pendidikan agama di Sulawesi Tengah,” ujarnya saat monitoring.

Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Kemenag Kota Palu, Dr. H. Hasni, bersama tim dari pusat. Surveyor nasional, Moh. Fuad Hasan, M.IKom., memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai pedoman teknis, mulai verifikasi data, supervisi lapangan, hingga kelengkapan asesmen oleh siswa. Ketua tim enumerator, Dr. Moh. Fauzi, S.Ag., MA., turut mendampingi bersama Sofyan Wijaya, SE., Ratna, dan sejumlah petugas Kemenag Kota Palu.

Kehadiran para pejabat dan tim teknis di lapangan diharapkan memperkuat kualitas data serta menjamin pelaksanaan asesmen berjalan kredibel dan sesuai standar.

ANLDB menjadi salah satu instrumen strategis pemerintah dalam membaca kondisi literasi keberagamaan siswa sejak jenjang dasar. Dengan dukungan teknologi dan sistem pengawasan berlapis, program ini diharapkan mampu menghadirkan gambaran autentik tentang karakter keagamaan generasi muda—khususnya di Sulawesi Tengah sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan agama yang lebih tepat dan berorientasi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *