Peningkatan penetrasi internet dan tingginya konsumsi media sosial di Indonesia menjadi alasan kuat perguruan tinggi harus bertransformasi secara digital.
Hal itu disampaikan Rektor Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Prof. Asep Saefuddin, dalam webinar bertajuk “Dari PAD untuk Indonesia” yang juga menghadirkan Presiden Paguyuban Asep Dunia (PAD), Asep Jaelani.
Dalam paparannya, Prof. Asep menjelaskan bahwa tingkat penetrasi internet di Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan. Indonesia bahkan tercatat sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar keempat di dunia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin terkoneksi secara digital.
Tak hanya jumlah pengguna yang meningkat, durasi penggunaan internet juga kian panjang. Ia menyebutkan, mayoritas masyarakat Indonesia mengakses internet selama 4–6 jam per hari, yakni sebesar 35,75 persen.
“Artinya ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Pendidikan tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama,” ujarnya.
Prof. Asep juga memaparkan bahwa 97,4 persen pengguna internet mengakses media sosial, 96,8 persen untuk hiburan, dan 96,4 persen untuk berita. Menariknya, 93,8 persen juga memanfaatkan internet untuk kebutuhan pendidikan.
Menurutnya, data tersebut menjadi landasan mengapa UICI sejak awal memilih fokus pada sistem perkuliahan berbasis digital. Model pembelajaran ini memungkinkan mahasiswa belajar secara fleksibel, tanpa harus hadir secara fisik di Jakarta.
“Kami memberikan kesempatan kepada anak bangsa untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara fleksibel, dari mana saja dan kapan saja. Mahasiswa tidak perlu datang ke Jakarta,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Asep juga membuka peluang beasiswa khusus bagi calon mahasiswa yang bernama Asep atau memiliki keterkaitan keluarga dengan nama tersebut melalui rekomendasi PAD. Melalui skema ini, biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang semula Rp2,5 juta per semester menjadi Rp1,5 juta per semester.
Ia berharap kolaborasi antara UICI dan PAD tidak hanya berhenti pada webinar, tetapi berlanjut pada kerja sama konkret dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya dalam pemanfaatan teknologi digital secara produktif dan bertanggung jawab.
Webinar ini menjadi ruang sinergi antara komunitas dan institusi pendidikan dalam menjawab tantangan era digital, sekaligus mendorong akses pendidikan tinggi yang lebih inklusif bagi masyarakat Indonesia. (*)


